Archive for the ‘Guru BK Ideal’ Category

Celoteh Pak Nurhadi: Menjadi Konselor Tidak Gampang?

Disajikan oleh: Adityas TR

Ada satu hal yang menurut saya sangat menarik dalam lokakarya tersebut bahwa ternyata kegiatan konseling tidak harus dilakukan oleh psikolog atau profesi yang sejenis, namun bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk Anda lho!. Tetapi ada satu hal tetap perlu diingat bahwa untuk menjadi seorang konselor seseorang harus memahami cara dan metode konseling yang benar. ”Metode ini penting, supaya ndak sama dengan curhat-curhatan itu” Kata Pak Sri Mulyono, Psikolog dan pembicara.

Menurut Pak Sri, konseling dan psikoterapi bertujuan untuk membantu seseorang yang berada dalam kesulitan dan bantuan ini bersifat profesional, akan tetapi biasanya konseling digunakan untuk penyembuhan konseli yang mengalami gangguan relatif ringan, jika dibandingkan dengan konseli yang menjalani psikoterapi. Psikoterapi digunakan untuk menunjukan proses yang berlangsung lama dan problemnya lebih kompleks. Konseling dapat berbentuk bantuan yang berupa pendidikan, suportif, situsional, pemecahan masalah yang masih disadari atau normal. Sedangkan psikoterapi berupa yang khas, rekonstruksi, analitik dan pengungkapan masalah-masalah yang sudah tidak disadari yang sudah neurotik dan masalah-masalah yang emosional. Konseling ini bukan merupakan pertemuan biasa melainkan suatu pertemuan atau pelayanan yang berkelanjutan dan sistematis.

Teknik Konseling
Ada beberapa teknik yang biasa digunakan dalam wawancara konseling antara lain :
Pendekatan directive (Concelor centered) : Yang berpusat pada konselor
Konselor yang mempergunakan metode ini membantu memecahkan masalah konseli dengan secara sadar mempergunakan sumber-sumber intelektualnya. Tujuan utama dari metode ini adalah membantu konseli mengganti tingkah laku emosional dan impulsif dengan tingkah laku yang rasional. Lepasnya tegangan-tegangan dan didapatnya ”insight” dipandang sebagai suatu hal yang penting.

Di dalam membantu memecahkan masalah-masalah yang dihadapi konseli dengan rasional, konselor tidak boleh bersikap otoriter dan menuduh, walaupun dikatakan direktif. Larangan-larangan yang langsung, petuah yang didaktis dan petuah yang sifatnya mengatur sebaiknya di hindari.

Konsep direktif meliputi bahwa konseli membutuhkan bantuan dan konselor membantu menemukan apa yang menjadi masalahnya dan apa yang mesti kerjakan. Teknik-teknik yang bisa digunakan antara lain : (i) Informasi tentang dirinya, hal ini dilakukan untuk mengkonfrontasikan antara informasi yang diberikan dengan kenyataan yang ada ; dari sini konseli diharapkan mampu mengevaluasi kembali sikapnya. (ii) Case history digunakan sebagai alat diagnosa dan terapeutik dengan tujuan membantu dalam ”rapport”, mengambangkan kartasis, memberikan keyakinan kembali dan kembali mengembangkan ”insight” dan (iv) Konflik yang digunakan sebagai alat terapeutik. Disituasi konflik sengaja ditimbulkan, konseli dihadapkan pada situasi yang memancing sikapnya dalam menghadapi realita dan konseli di motivasi untuk memecahkanya.

Pendekatan Non-Directive (Client Centered).
Pada teknik ini konseli diberi kesempatan untuk memimpin wawancara dan memikul sebagian besar dari tanggung jawab atas pemecahan masalahnya. Beberapa ciri-cirinya antara lain : (a) konseli bebas untuk mengekspresikan dirinya (b). Konseli menerima, mengetahui, menjelaskan, mengulang lebih secara objecktif pernyataan-pernyataan dari konseli (c) Konseli ditolong untuk makin mengenal diri sendiri dan (d). Konseli membuat asal-usul yang berhubungan dengan pemecahan masalahnya.

Salah satu keuntungan terbesar dari metode ini adalah mengurangi ketergantungan konseli. Bahkan memberikan pelepasan emosi yang dalam dan memberi lebih banyak kesempatan untuk pertumbuhan ”self sufficiency”.

Sebenarnya masih ada satu lagi metode yang dikenal dengan Pendekatan yang Eclectic. Dalam pendekatan ini konselor mempergunakan cara-cara yang dianggap baik atau tepat, yang disesuaikan dengan konseli dan masalahnya dengan demikian konselor dapat menggunakan kedua teknik tersebut diatas dalam satu ”counselling session” yang berarti konselor menggunakan teknik-teknik memberi saran, nasehat, dorongan dan memberi konseli.

Bagaimana, masih berminat menjadi Konselor?

Sumber: http://hady82.multiply.com/journal/item/3

Mengupas Kualifikasi dan Kompetensi Konselor

Oleh: Adityas TR

Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator, dan instruktur (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 6). Masing-masing kualifikasi pendidik, termasuk konselor, memiliki keunikan konteks tugas dan ekspektasi kinerja. Standar kualifikasi akademik dan kompetensi konselor dikembangkan dan dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang menegaskan konteks tugas dan ekspektasi kinerja konselor.

Konteks tugas konselor berada dalam kawasan pelayanan yang bertujuan mengembangkan potensi dan memandirikan konseli dalam pengambilan keputusan dan pilihan untuk mewujudkan kehidupan yang produktif, sejahtera, dan peduli kemaslahatan umum. Pelayanan dimaksud adalah pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor adalah pengampu pelayanan ahli bimbingan dan konseling, terutama dalam jalur pendidikan formal dan nonformal.

Ekspektasi kinerja konselor dalam menyelenggarakan pelayanan ahli bimbingan dan konseling senantiasa digerakkan oleh motif altruistik, sikap empatik, menghormati keragaman, serta mengutamakan kepentingan konseli, dengan selalu mencermati dampak jangka panjang dari pelayanan yang diberikan.

Sosok utuh kompetensi konselor mencakup kompetensi akademik dan profesional sebagai satu keutuhan. Kompetensi akademik merupakan landasan ilmiah dari kiat pelaksanaan pelayanan profesional bimbingan dan konseling. Kompetensi akademik merupakan landasan bagi pengembangan kompetensi profesional, yang meliputi: (1) memahami secara mendalam konseli yang dilayani, (2) menguasai landasan dan kerangka teoretik bimbingan dan konseling, (3) menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling yang memandirikan, dan (4) mengembangkan pribadi dan profesionalitas konselor secara berkelanjutan.

Unjuk kerja konselor sangat dipengaruhi oleh kualitas penguasaan ke empat komptensi tersebut yang dilandasi oleh sikap, nilai, dan kecenderungan pribadi yang mendukung. Kompetensi akademik dan profesional konselor secara terintegrasi membangun keutuhan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Pembentukan kompetensi akademik konselor ini merupakan proses pendidikan formal jenjang strata satu (S-1) bidang Bimbingan dan Konseling, yang bermuara pada penganugerahan ijazah akademik Sarjana Pendidikan (S.Pd) bidang Bimbingan dan Konseling. Sedangkan kompetensi profesional merupakan penguasaan kiat penyelenggaraan bimbingan dan konseling yang memandirikan, yang ditumbuhkan serta diasah melalui latihan menerapkan kompetensi akademik yang telah diperoleh dalam konteks otentik Pendidikan Profesi Konselor yang berorientasi pada pengalaman dan kemampuan praktik lapangan, dan tamatannya memperoleh sertifikat profesi bimbingan dan konseling dengan gelar profesi Konselor, disingkat Kons.

Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/12/16/kualifikasi-dan-kompetensi-konselor/, 24 Okt 2011